Sunday, September 16, 2007

seberapa bahagiakah kamu?

aku lelah sekali, terlelap dalam mimpiku. sesaat kemudian, aku duduk di sebuah ruangan yang rapi. di pojok ruangan aku melihat foto sigmund freud. di sebelah kananku banyak sekali buku-buku psikologi. wah... nampaknya aku sedang bermimpi menjadi seorang psikolog. benar-benar malam yang mendebarkan. sesaat aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi. sebelum sempat berpikir panjang, pintu ruanganku diketuk.


"pak, ibu mariana liem sudah datang, boleh saya persilahkan masuk?" kata seorang pria yang sudah setengah tua.

mungkin asistenku. aku tidak mengenalnya. dan aku tak peduli. toh ini cuma mimpi. aku mengangguk. beberapa saat kemudian seorang wanita cantik, tinggi, dan putih masuk ke ruanganku. aku cepat-cepat membuka buku di hadapanku. di halaman yang berlabel "M" tidak ada namanya. mungkin ini kedatangannya yang pertama kali. aku berdiri dan menyambut salamnya.

"abimono" kataku dengan tersenyum.

dia tidak berkata apa-apa, wajahnya sangat sedih. kupersilahkan duduk di kursi pasienku. dia menghela nafas panjang.

"saya rasa ini kedatangan ibu yang pertama" kataku.

"boleh kupanggil maria saja? anda masih terlalu muda untuk menjadi ibu saya." tanyaku berusaha mencairkan suasana.

dia tersenyum sebentar, kemudian mengangguk.

"maria, boleh saya catat dulu data pribadi anda? seperti tanggal lahir, status pernikahan anda, jumlah anak mungkin?"

"saya belum menikah, lahir tanggal 8 mei 1978, sisanya mungkin sudah pernah ditanyakan oleh asisten anda saat saya mendaftar." jawabnya dingin.

"wanita secantik anda belum menikah? pacar mungkin?" tanyaku menggoda.

"tidak ada..." katanya.

"maria, boleh ceritakan problem anda?" tanyaku berhati-hati.

"saya tidak bahagia..." kata maria dengan mata berkaca-kaca.

"...dan sejak kapan anda merasakan ini?" kataku meniru perkataan psikolog di film-film yang pernah kutonton.

"mungkin sudah sejak 1 tahun belakangan ini, atau 2 tahun, atau 3 tahun... entahlah saya tidak ingat." kata maria.

"ada masalah dengan keluarga anda? ayah dan ibu maksud saya?" tanyaku

"tidak juga, tidak ada masalah, tidak pernah ada konflik di antar kita." jawab maria tegas.

"well... tidak ada konflik bukan berarti tidak ada masalah, bisa saja karena hubungan yang dingin." kataku sok pintar.

maria tidak menjawab. kami berdua terdiam beberapa saat. aku mulai bertanya lagi beberapa hal kecil mengenai keluarganya. dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa dia memiliki keluarga yang cukup rukun. maria adalah anak pertama. dia memiliki seorang adik. ayah dan ibunya mencintai satu sama lain, sehingga keluarga mereka sangat rukun. tidak ada konflik keluarga. aku mencoret kata keluarga dalam pikiranku.

"mungkin ada masalah di pekerjaan anda?" tanyaku menebak-nebak. "bagaimana dengan karir anda?" sambungku lagi dengan tak sabar.

"biasa saja. pekerjaan saya lancar-lancar saja. terkadang memang mengharuskan lembur, tapi di mana-mana juga kondisinya sama." jawabnya lagi.

"boleh tahu apa pekerjaan anda?" tanyaku lagi.

kami tenggelam agak lama saat berbicara tentang pekerjaan. dari sini aku dapat menyimpulkan bahwa maria bekerja di perusahaan yang cukup baik. karirnyapun cukup baik. dia sudah 3 kali dipromosi. hubungannya dengan atasan baik karena orangnya supel dan memiliki penampilan yang cukup cantik. ini bukan rahasia di antara kita, bukankah banyak orang menilai orang lain berdasarkan penampilannya? maria juga memiliki hubungan yang baik dengan bawahannya. mereka seperti teman di luar kantor, dan bawahannya patuh padanya untuk urusan pekerjaan. dari ceritanya, maria cukup dibutuhkan di kantornya. sekali lagi aku mencoret kata kantor dari pikiranku.

aku mulai tegang karena belum menemukan masalah apa yang sebenarnya dialami maria. mata sigmund freud seperti melotot padaku. mulai muncul beberapa kata lagi di pikiranku seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya.

"anda punya masalah ekonomi? hutang atau bagaimana mungkin?" tanyaku.

"hahahaha..." akhirnya maria tertawa lepas. "saya bisa membayar psikolog mahal macam anda, dan anda menduga saya punya masalah ekonomi? jangan bercanda dong. saya sudah punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, saya punya asuransi, simpanan jangka panjang, dan saya masih punya sisa gaji yang cukup banyak untuk membeli sepatu, tas, dan baju..." katanya bangga.

"anda punya problem kesehatan?" kataku mengalihkan perhatian.

"tidak, saya sehat. saya rajin berolahraga, hampir setiap hari malah..." kata maria.

"apa yang anda lakukan di akhir minggu?" tanyaku penasaran. "seseorang yang memiliki kehidupan yang didambakan banyak orang seperti anda, tentunya memiliki cara sendiri untuk menghabiskan akhir pekan dong..."

"ya, biasa saya membaca buku, kadang-kadang bertemu teman-teman kuliah, atau teman-teman lain yang saya kenal dari luar kampus. terkadang bertemu dengan saudara, menghadiri pesta pernikahan teman, jalan-jalan ke luar kota... atau sekedar shopping. yang pasti akhir minggu saya tidak pernah kosong..." jawab maria bersemangat.

"bi, jika kamu menduga aku tidak bahagia karena tidak punya teman, kamu salah besar, karena temanku banyak sekali, baik pria maupun wanita. mereka berebut untuk pergi denganku, nonton denganku, berenang, jogging, karena aku adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara dan beraktivitas." kata maria seperti dia sudah membaca pikiranku.

aku menutup bukuku. maria terkejut.

"wah, tampaknya saya sudah menemukan penyakit anda..." kataku tersenyum.

"apa, bi? please tell me..." katanya lirih.

"you're just simply unhappy..." kataku tersenyum.

"why? you know... apa penyebab sakitku. seperti tuberculosis yang disebabkan mycobacterium tuberculosis... apa yang menyebabkan 'unhappy' ini?" tanyanya lagi penasaran.

"hidupmu hampa... terlalu banyak ruang kosong di hidupmu." kataku lagi dengan wajah penuh perhatian.

maria terdiam lama. sampai akhirnya dia membuka mulutnya lagi dengan mata berkaca-kaca.

"dan obat yang cocok untuk penyakitku?" katanya dengan suara bergetar.

kujawab, "carilah seorang kekasih. dengan demikian kamu merasakan ada sesuatu yang harus diperjuangkan di hidup ini. dengan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, kamu akan mengerti betapa berharganya hidup ini."

sigmund freud tersenyum.

friendster

seorang teman bertanya : "bi, narcist banget loe, kenapa di profil friendstermu fotomu semua?"


kujawab sederhana : "kalau kupasang foto olga lydia, jadi friendsternya olga lydia dong."

Saturday, September 01, 2007

perusahaan kursi goyang

beberapa hari lalu aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. pembicaraan berlangsung beberapa saat. kami saling bercerita di mana kami bekerja, bagaimana kami bekerja, dan bagaimana kami menjalankan hari-hari dewasa kami.


"aku bekerja sebagai business development, kawan" katanya kepadaku.

"pekerjaan seperti apa itu?" tanyaku.

"aku dan team bekerja untuk membangun sebuah bisnis bagi perusahaan kami. beberapa pt baru, yang nantinya diharapkan dapat menjadi star ataupun cash cows bagi perusahaan kami"

"wow... kamu pasti jadi orang penting di perusahaanmu..." kataku menggoda.

"hahaha... ya nggak mungkin lah!" kata temanku lesu.

"mengapa begitu? tapi kau menikmati pekerjaanmu kan?" tanyaku lagi

"well, pekerjaanku seperti membuat sebuah kursi goyang." kata temanku lagi

"maksudmu?" tanyaku makin penasaran

kata temanku, "ya, awalnya boss kami akan memanggil kami kemudian dia memberikan sebuah order yang singkat."

temanku melanjutkan dengan suara bassnya, "buatlah sebuah tahta, tapi aku mau bukan tahta yang biasa, buatlah sebuah kursi goyang"

aku tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati. "lalu?" kataku dengan antusias mendengar kelanjutan ceritanya.

"pada awalnya aku dan team memberikan gambaran detail mengenai kursi goyang tersebut. kayu apa yang akan kami gunakan, paku apa yang akan kami gunakan, bahan apa yang akan kami gunakan untuk bantalannya, kulitnya, dengan warna apa kursi itu akan kami warnai, dan berapa estimasi biaya untuk membuat kursi tersebut..." kata temanku tanpa berhenti.

"kemudian segala hal yang menyebalkan dimulai, big boss mulai menambahkan pola polkadot pada desain kursi goyang kami, padahal menurut riset, pengguna kursi goyang tidak suka pola polkadot. big boss juga menambahkan sebuah lonceng di bawah kursi goyang agar bunyi gemerincing terdengar saat kursi digunakan. padahal menurut riset, orang yang menggunakan kursi goyang suka ketenangan.

aku mulai memasang wajah serius.

"dalih mereka sederhana : business sense!" kata temanku dengan wajah merah padam, seperti mengingat kekesalan di masa lalu.

"so, pada akhirnya konsep kursimu diubah manajemen atau owner? bukankah itu wajar? kan mereka yang punya uang?" kataku dengan wajah lugu.

"ceritaku belum selesai bro!", kata temanku dengan kesal.

"setelah konsep kursiku diubah, datanglah seorang raja kecil baru yang nantinya akan duduk di kursi tersebut. raja kecil baru ini dari awal tidak pernah mau terlibat. tapi setelah kursi goyang dengan lonceng tersebut jadi, dia duduk di tahta barunya dengan wajah sombong."

"hari pertama mungkin dia masih menikmati goyangan kursinya. hari kedua dia mulai komplain, mengapa kursi tersebut diberi lonceng. saat kukatakan bahwa itu perintah big boss, dengan mental penjilatnya dia minta agar lonceng di kursi tersebut ditambah!" temanku melanjutkan ceritanya."

"hari kedua dia memanggil orang dari bagian pengadaan, dia minta agar kursi goyangnya ditambah bantalan di bagian lengan. tidak lupa dia mencantumkan post-it kuning ke orang pengadaan, isinya agar bantalan tersebut dibeli dari saudaranya."

temanku meneguk minumannya, dia melanjutkan, "aku sudah mengingatkan mengenai bantalan dan tambahan lonceng itu di meeting manajemen. intinya, semua tambahan tersebut tidak ada dalam budget. tapi big boss tetap menyetujui penambahan tersebut sambil memuji entrepreneurship sang raja kecil."

sampai sini aku mengangkat satu alisku.

"belum selesai, bro. setelah kursi diberi bantalan, bagian pengadaan melihat kesempatan lain. dia mendekati sang raja kecil di atas kursi goyangnya yang gemerincing dengan bantalan tangan yang empuk."

temanku memasang mimik seorang penjilat, suaranya menjadi seperti suara banci di lampu merah, "raja kecil, raja gagah sekali di atas kursi itu, tapi akan lebih gagah jika kursi itu ditambah roda. saya ada teman seorang supplier roda yang mampu memberikan roda silver dengan harga kompetitif..." begitulah temanku menirukan orang dari bagian pengadaan.

temanku meneguk minumannya lagi, "...begitulah orang dari bagian pengadaan membujuk sang raja kecil untuk menambahkan roda pada kursi goyangnya."

"Well... itu wajar teman," kataku. "di setiap projek pasti ada oknum-oknum yang tidak berintegritas, memanfaatkan peluang membeli barang-barang untuk memperoleh komisi. jika kita tahu itu buruk, jangan kita lakukan. hidup kita tidak sebatas di bumi saja..." kataku menghibur

temanku seperti tidak mendengarkan kata-kataku, dia melanjutkan ceritanya.

"tak berapa lama roda dipasang pada kursi. setelah berjalan beberapa lama, kursi tersebut terlihat tidak dapat bersaing dengan kursi lainnya. bunyinya berisik, akibat lonceng yang terlalu banyak. sang raja kecil sering tertidur karena ada bantalan yang empuk. ditambah roda pada kursi tersebut, kursi goyang itu sudah tidak dapat bergoyang lagi sesuai fungsi aslinya." lanjut temanku dengan wajah lesu.

aku mengangkat kedua alisku.

"singkat cerita, aku dan team dipanggil manajemen, aku didakwa karena bersalah. perintah awal adalah membuat kursi goyang. aku didakwa karena membuat kursi roda yang berisik. perintah awal adalah membuat kursi yang berfungsi sebagai tahta. tapi di akhir cerita menjadi kursi roda untuk orang cacat, ditambah lonceng-lonceng yang berisik...." lanjut temanku yang semakin menunduk seperti kurang tidur.

temanku menghabiskan minumannya, "pekerjaanku sucks, bro. it's a big bullshit..."