aku lelah sekali, terlelap dalam mimpiku. sesaat kemudian, aku duduk di sebuah ruangan yang rapi. di pojok ruangan aku melihat foto sigmund freud. di sebelah kananku banyak sekali buku-buku psikologi. wah... nampaknya aku sedang bermimpi menjadi seorang psikolog. benar-benar malam yang mendebarkan. sesaat aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi. sebelum sempat berpikir panjang, pintu ruanganku diketuk.

"pak, ibu mariana liem sudah datang, boleh saya persilahkan masuk?" kata seorang pria yang sudah setengah tua.
mungkin asistenku. aku tidak mengenalnya. dan aku tak peduli. toh ini cuma mimpi. aku mengangguk. beberapa saat kemudian seorang wanita cantik, tinggi, dan putih masuk ke ruanganku. aku cepat-cepat membuka buku di hadapanku. di halaman yang berlabel "M" tidak ada namanya. mungkin ini kedatangannya yang pertama kali. aku berdiri dan menyambut salamnya.
"abimono" kataku dengan tersenyum.
dia tidak berkata apa-apa, wajahnya sangat sedih. kupersilahkan duduk di kursi pasienku. dia menghela nafas panjang.
"saya rasa ini kedatangan ibu yang pertama" kataku.
"boleh kupanggil maria saja? anda masih terlalu muda untuk menjadi ibu saya." tanyaku berusaha mencairkan suasana.
dia tersenyum sebentar, kemudian mengangguk.
"maria, boleh saya catat dulu data pribadi anda? seperti tanggal lahir, status pernikahan anda, jumlah anak mungkin?"
"saya belum menikah, lahir tanggal 8 mei 1978, sisanya mungkin sudah pernah ditanyakan oleh asisten anda saat saya mendaftar." jawabnya dingin.
"wanita secantik anda belum menikah? pacar mungkin?" tanyaku menggoda.
"tidak ada..." katanya.
"maria, boleh ceritakan problem anda?" tanyaku berhati-hati.
"saya tidak bahagia..." kata maria dengan mata berkaca-kaca.
"...dan sejak kapan anda merasakan ini?" kataku meniru perkataan psikolog di film-film yang pernah kutonton.
"mungkin sudah sejak 1 tahun belakangan ini, atau 2 tahun, atau 3 tahun... entahlah saya tidak ingat." kata maria.
"ada masalah dengan keluarga anda? ayah dan ibu maksud saya?" tanyaku
"tidak juga, tidak ada masalah, tidak pernah ada konflik di antar kita." jawab maria tegas.
"well... tidak ada konflik bukan berarti tidak ada masalah, bisa saja karena hubungan yang dingin." kataku sok pintar.
maria tidak menjawab. kami berdua terdiam beberapa saat. aku mulai bertanya lagi beberapa hal kecil mengenai keluarganya. dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa dia memiliki keluarga yang cukup rukun. maria adalah anak pertama. dia memiliki seorang adik. ayah dan ibunya mencintai satu sama lain, sehingga keluarga mereka sangat rukun. tidak ada konflik keluarga. aku mencoret kata keluarga dalam pikiranku.
"mungkin ada masalah di pekerjaan anda?" tanyaku menebak-nebak. "bagaimana dengan karir anda?" sambungku lagi dengan tak sabar.
"biasa saja. pekerjaan saya lancar-lancar saja. terkadang memang mengharuskan lembur, tapi di mana-mana juga kondisinya sama." jawabnya lagi.
"boleh tahu apa pekerjaan anda?" tanyaku lagi.
kami tenggelam agak lama saat berbicara tentang pekerjaan. dari sini aku dapat menyimpulkan bahwa maria bekerja di perusahaan yang cukup baik. karirnyapun cukup baik. dia sudah 3 kali dipromosi. hubungannya dengan atasan baik karena orangnya supel dan memiliki penampilan yang cukup cantik. ini bukan rahasia di antara kita, bukankah banyak orang menilai orang lain berdasarkan penampilannya? maria juga memiliki hubungan yang baik dengan bawahannya. mereka seperti teman di luar kantor, dan bawahannya patuh padanya untuk urusan pekerjaan. dari ceritanya, maria cukup dibutuhkan di kantornya. sekali lagi aku mencoret kata kantor dari pikiranku.
aku mulai tegang karena belum menemukan masalah apa yang sebenarnya dialami maria. mata sigmund freud seperti melotot padaku. mulai muncul beberapa kata lagi di pikiranku seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya.
"anda punya masalah ekonomi? hutang atau bagaimana mungkin?" tanyaku.
"hahahaha..." akhirnya maria tertawa lepas. "saya bisa membayar psikolog mahal macam anda, dan anda menduga saya punya masalah ekonomi? jangan bercanda dong. saya sudah punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, saya punya asuransi, simpanan jangka panjang, dan saya masih punya sisa gaji yang cukup banyak untuk membeli sepatu, tas, dan baju..." katanya bangga.
"anda punya problem kesehatan?" kataku mengalihkan perhatian.
"tidak, saya sehat. saya rajin berolahraga, hampir setiap hari malah..." kata maria.
"apa yang anda lakukan di akhir minggu?" tanyaku penasaran. "seseorang yang memiliki kehidupan yang didambakan banyak orang seperti anda, tentunya memiliki cara sendiri untuk menghabiskan akhir pekan dong..."
"ya, biasa saya membaca buku, kadang-kadang bertemu teman-teman kuliah, atau teman-teman lain yang saya kenal dari luar kampus. terkadang bertemu dengan saudara, menghadiri pesta pernikahan teman, jalan-jalan ke luar kota... atau sekedar shopping. yang pasti akhir minggu saya tidak pernah kosong..." jawab maria bersemangat.
"bi, jika kamu menduga aku tidak bahagia karena tidak punya teman, kamu salah besar, karena temanku banyak sekali, baik pria maupun wanita. mereka berebut untuk pergi denganku, nonton denganku, berenang, jogging, karena aku adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara dan beraktivitas." kata maria seperti dia sudah membaca pikiranku.
aku menutup bukuku. maria terkejut.
"wah, tampaknya saya sudah menemukan penyakit anda..." kataku tersenyum.
"apa, bi? please tell me..." katanya lirih.
"you're just simply unhappy..." kataku tersenyum.
"why? you know... apa penyebab sakitku. seperti tuberculosis yang disebabkan mycobacterium tuberculosis... apa yang menyebabkan 'unhappy' ini?" tanyanya lagi penasaran.
"hidupmu hampa... terlalu banyak ruang kosong di hidupmu." kataku lagi dengan wajah penuh perhatian.
maria terdiam lama. sampai akhirnya dia membuka mulutnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"dan obat yang cocok untuk penyakitku?" katanya dengan suara bergetar.
kujawab, "carilah seorang kekasih. dengan demikian kamu merasakan ada sesuatu yang harus diperjuangkan di hidup ini. dengan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, kamu akan mengerti betapa berharganya hidup ini."
sigmund freud tersenyum.

"pak, ibu mariana liem sudah datang, boleh saya persilahkan masuk?" kata seorang pria yang sudah setengah tua.
mungkin asistenku. aku tidak mengenalnya. dan aku tak peduli. toh ini cuma mimpi. aku mengangguk. beberapa saat kemudian seorang wanita cantik, tinggi, dan putih masuk ke ruanganku. aku cepat-cepat membuka buku di hadapanku. di halaman yang berlabel "M" tidak ada namanya. mungkin ini kedatangannya yang pertama kali. aku berdiri dan menyambut salamnya.
"abimono" kataku dengan tersenyum.
dia tidak berkata apa-apa, wajahnya sangat sedih. kupersilahkan duduk di kursi pasienku. dia menghela nafas panjang.
"saya rasa ini kedatangan ibu yang pertama" kataku.
"boleh kupanggil maria saja? anda masih terlalu muda untuk menjadi ibu saya." tanyaku berusaha mencairkan suasana.
dia tersenyum sebentar, kemudian mengangguk.
"maria, boleh saya catat dulu data pribadi anda? seperti tanggal lahir, status pernikahan anda, jumlah anak mungkin?"
"saya belum menikah, lahir tanggal 8 mei 1978, sisanya mungkin sudah pernah ditanyakan oleh asisten anda saat saya mendaftar." jawabnya dingin.
"wanita secantik anda belum menikah? pacar mungkin?" tanyaku menggoda.
"tidak ada..." katanya.
"maria, boleh ceritakan problem anda?" tanyaku berhati-hati.
"saya tidak bahagia..." kata maria dengan mata berkaca-kaca.
"...dan sejak kapan anda merasakan ini?" kataku meniru perkataan psikolog di film-film yang pernah kutonton.
"mungkin sudah sejak 1 tahun belakangan ini, atau 2 tahun, atau 3 tahun... entahlah saya tidak ingat." kata maria.
"ada masalah dengan keluarga anda? ayah dan ibu maksud saya?" tanyaku
"tidak juga, tidak ada masalah, tidak pernah ada konflik di antar kita." jawab maria tegas.
"well... tidak ada konflik bukan berarti tidak ada masalah, bisa saja karena hubungan yang dingin." kataku sok pintar.
maria tidak menjawab. kami berdua terdiam beberapa saat. aku mulai bertanya lagi beberapa hal kecil mengenai keluarganya. dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa dia memiliki keluarga yang cukup rukun. maria adalah anak pertama. dia memiliki seorang adik. ayah dan ibunya mencintai satu sama lain, sehingga keluarga mereka sangat rukun. tidak ada konflik keluarga. aku mencoret kata keluarga dalam pikiranku.
"mungkin ada masalah di pekerjaan anda?" tanyaku menebak-nebak. "bagaimana dengan karir anda?" sambungku lagi dengan tak sabar.
"biasa saja. pekerjaan saya lancar-lancar saja. terkadang memang mengharuskan lembur, tapi di mana-mana juga kondisinya sama." jawabnya lagi.
"boleh tahu apa pekerjaan anda?" tanyaku lagi.
kami tenggelam agak lama saat berbicara tentang pekerjaan. dari sini aku dapat menyimpulkan bahwa maria bekerja di perusahaan yang cukup baik. karirnyapun cukup baik. dia sudah 3 kali dipromosi. hubungannya dengan atasan baik karena orangnya supel dan memiliki penampilan yang cukup cantik. ini bukan rahasia di antara kita, bukankah banyak orang menilai orang lain berdasarkan penampilannya? maria juga memiliki hubungan yang baik dengan bawahannya. mereka seperti teman di luar kantor, dan bawahannya patuh padanya untuk urusan pekerjaan. dari ceritanya, maria cukup dibutuhkan di kantornya. sekali lagi aku mencoret kata kantor dari pikiranku.
aku mulai tegang karena belum menemukan masalah apa yang sebenarnya dialami maria. mata sigmund freud seperti melotot padaku. mulai muncul beberapa kata lagi di pikiranku seperti ekonomi, sosial, dan sebagainya.
"anda punya masalah ekonomi? hutang atau bagaimana mungkin?" tanyaku.
"hahahaha..." akhirnya maria tertawa lepas. "saya bisa membayar psikolog mahal macam anda, dan anda menduga saya punya masalah ekonomi? jangan bercanda dong. saya sudah punya rumah sendiri, kendaraan sendiri, saya punya asuransi, simpanan jangka panjang, dan saya masih punya sisa gaji yang cukup banyak untuk membeli sepatu, tas, dan baju..." katanya bangga.
"anda punya problem kesehatan?" kataku mengalihkan perhatian.
"tidak, saya sehat. saya rajin berolahraga, hampir setiap hari malah..." kata maria.
"apa yang anda lakukan di akhir minggu?" tanyaku penasaran. "seseorang yang memiliki kehidupan yang didambakan banyak orang seperti anda, tentunya memiliki cara sendiri untuk menghabiskan akhir pekan dong..."
"ya, biasa saya membaca buku, kadang-kadang bertemu teman-teman kuliah, atau teman-teman lain yang saya kenal dari luar kampus. terkadang bertemu dengan saudara, menghadiri pesta pernikahan teman, jalan-jalan ke luar kota... atau sekedar shopping. yang pasti akhir minggu saya tidak pernah kosong..." jawab maria bersemangat.
"bi, jika kamu menduga aku tidak bahagia karena tidak punya teman, kamu salah besar, karena temanku banyak sekali, baik pria maupun wanita. mereka berebut untuk pergi denganku, nonton denganku, berenang, jogging, karena aku adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara dan beraktivitas." kata maria seperti dia sudah membaca pikiranku.
aku menutup bukuku. maria terkejut.
"wah, tampaknya saya sudah menemukan penyakit anda..." kataku tersenyum.
"apa, bi? please tell me..." katanya lirih.
"you're just simply unhappy..." kataku tersenyum.
"why? you know... apa penyebab sakitku. seperti tuberculosis yang disebabkan mycobacterium tuberculosis... apa yang menyebabkan 'unhappy' ini?" tanyanya lagi penasaran.
"hidupmu hampa... terlalu banyak ruang kosong di hidupmu." kataku lagi dengan wajah penuh perhatian.
maria terdiam lama. sampai akhirnya dia membuka mulutnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"dan obat yang cocok untuk penyakitku?" katanya dengan suara bergetar.
kujawab, "carilah seorang kekasih. dengan demikian kamu merasakan ada sesuatu yang harus diperjuangkan di hidup ini. dengan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, kamu akan mengerti betapa berharganya hidup ini."
sigmund freud tersenyum.



