Wednesday, August 30, 2006

uang untuk segalanya

what money can buy? a bed, but not a sleep. a house, but not a home. blablabla... dan seterusnya. baru-baru ini saya jalan-jalan ke salah satu bangunan tempat wanita menghabiskan uang [baca : tempat shopping]. di sana terpampang beberapa poster bertuliskan :

"whoever said that money can't buy happiness simply didn't know where to go shopping"


kalimat itu terdengar "lucu", tapi membuat saya berpikir kembali tentang uang. dengan uang, kita harus membeli kebutuhan kita yang paling mendasar : makanan, pakaian, tempat tinggal, dan ice cream [begitu kata buku-buku]. dengan uang pula seseorang diukur kesuksesannya. bahkan tak jarang orang tua mengatakan anaknya sudah "jadi orang" atau belum dengan ukuran kesuksesan yang sama : uang yang diterima anaknya dari hasil kerjanya [baca : uang yang diterima si orang tua juga dari anaknya].

ini kenyataan, manakah yang berpeluang lebih besar untuk berbuat baik? orang yang punya uang atau tidak punya uang? abaikan saja kata-kata iri dari orang bahwa orang kaya lebih sulit masuk surga karena banyaknya godaan atau caranya menjadi kaya, kenyataannya mereka lebih mampu untuk melakukan hal simple seperti menyumbang korban bencana alam. see? dari urusan jasmani, sampai rohani, semua butuh uang.

masih tidak terima? buat orang-orang gajian... apa sih yang anda tunggu di akhir bulan? sekarung beras dari perusahaan? dua karung? lima karung? bukan? jawabannya : uang! buat pengusaha juga sama. apa yang anda harap dari usaha anda? menghidupi 20 karyawan anda dengan profit anda, dan 0 rupiah untuk anda? hmmm.. uang...

apakah benar begitu? dari kecil saya selalu dinasehati banyak orang "uang bukan segalanya", "being greed is not good", dan sebagainya. tapi hari ini seorang teman saya memberi pencerahan baru: "uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang" . benarkah?

Thursday, August 17, 2006

konspirasi bakpau

tadi malam saya ke dokter. akhirnya setelah seminggu lebih sakit kutahan-tahan, ndak kuat juga. badan udah kayak megang kulkas bagian depan dan belakang, kadang 35 derajat, kadang 38 derajat. hasil cek darah cuma trombosit turun dan tidak demam berdarah. hari jumat cek tiphus. gara-gara har-pit-nas banyak yang tutup. cek lab saja harus ditunda. mau berobat aja sulit. satu hal yang saya bingung, kenapa ya sejak kerja di **** saya sering sakit? "ciong" kali ya... hehehe. o.k. that will be another story.


intinya, saya ke salah satu dokter langganan sejak saya kecil. karena belakangan sering ke dokter, saya sadar satu hal. di depan tiap dokter mostly ada tukang bakpau! bukan serabi, nasi goreng, kue putu, mocchi, ice cream, burger, bakmi, bakso, tapi : bakpau!

pernah terpikir sebenarnya ada aliansi antara ikatan bakpau nasional dan ikatan dokter indonesia? kalau ya... ada apa ya di dalam bakpau tersebut? jangan-jangan ini yang membuat orang yang menetap di suatu tempat [tidak kost, tidak sering perjalanan dinas] umumnya ke dokter yang sama terus. well? pernah mencicipi bakpaunya? saya pernah mencicipinya waktu kecil. mungkinkah ini yang membuat aku kembali ke sana walau setelah puluhan tahun? bisa menebak ada konspirasi apa sebenarnya?
bukan itu saja, sebenarnya ada konspirasi yang lain. perhatikan di dokter anak dan dokter gigi. mostly ada boneka kudanil berwarna ungu!