beberapa hari lalu aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. pembicaraan berlangsung beberapa saat. kami saling bercerita di mana kami bekerja, bagaimana kami bekerja, dan bagaimana kami menjalankan hari-hari dewasa kami.

"aku bekerja sebagai business development, kawan" katanya kepadaku.
"pekerjaan seperti apa itu?" tanyaku.
"aku dan team bekerja untuk membangun sebuah bisnis bagi perusahaan kami. beberapa pt baru, yang nantinya diharapkan dapat menjadi star ataupun cash cows bagi perusahaan kami"
"wow... kamu pasti jadi orang penting di perusahaanmu..." kataku menggoda.
"hahaha... ya nggak mungkin lah!" kata temanku lesu.
"mengapa begitu? tapi kau menikmati pekerjaanmu kan?" tanyaku lagi
"well, pekerjaanku seperti membuat sebuah kursi goyang." kata temanku lagi
"maksudmu?" tanyaku makin penasaran
kata temanku, "ya, awalnya boss kami akan memanggil kami kemudian dia memberikan sebuah order yang singkat."
temanku melanjutkan dengan suara bassnya, "buatlah sebuah tahta, tapi aku mau bukan tahta yang biasa, buatlah sebuah kursi goyang"
aku tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati. "lalu?" kataku dengan antusias mendengar kelanjutan ceritanya.
"pada awalnya aku dan team memberikan gambaran detail mengenai kursi goyang tersebut. kayu apa yang akan kami gunakan, paku apa yang akan kami gunakan, bahan apa yang akan kami gunakan untuk bantalannya, kulitnya, dengan warna apa kursi itu akan kami warnai, dan berapa estimasi biaya untuk membuat kursi tersebut..." kata temanku tanpa berhenti.
"kemudian segala hal yang menyebalkan dimulai, big boss mulai menambahkan pola polkadot pada desain kursi goyang kami, padahal menurut riset, pengguna kursi goyang tidak suka pola polkadot. big boss juga menambahkan sebuah lonceng di bawah kursi goyang agar bunyi gemerincing terdengar saat kursi digunakan. padahal menurut riset, orang yang menggunakan kursi goyang suka ketenangan.
aku mulai memasang wajah serius.
"dalih mereka sederhana : business sense!" kata temanku dengan wajah merah padam, seperti mengingat kekesalan di masa lalu.
"so, pada akhirnya konsep kursimu diubah manajemen atau owner? bukankah itu wajar? kan mereka yang punya uang?" kataku dengan wajah lugu.
"ceritaku belum selesai bro!", kata temanku dengan kesal.
"setelah konsep kursiku diubah, datanglah seorang raja kecil baru yang nantinya akan duduk di kursi tersebut. raja kecil baru ini dari awal tidak pernah mau terlibat. tapi setelah kursi goyang dengan lonceng tersebut jadi, dia duduk di tahta barunya dengan wajah sombong."
"hari pertama mungkin dia masih menikmati goyangan kursinya. hari kedua dia mulai komplain, mengapa kursi tersebut diberi lonceng. saat kukatakan bahwa itu perintah big boss, dengan mental penjilatnya dia minta agar lonceng di kursi tersebut ditambah!" temanku melanjutkan ceritanya."
"hari kedua dia memanggil orang dari bagian pengadaan, dia minta agar kursi goyangnya ditambah bantalan di bagian lengan. tidak lupa dia mencantumkan post-it kuning ke orang pengadaan, isinya agar bantalan tersebut dibeli dari saudaranya."
temanku meneguk minumannya, dia melanjutkan, "aku sudah mengingatkan mengenai bantalan dan tambahan lonceng itu di meeting manajemen. intinya, semua tambahan tersebut tidak ada dalam budget. tapi big boss tetap menyetujui penambahan tersebut sambil memuji entrepreneurship sang raja kecil."
sampai sini aku mengangkat satu alisku.
"belum selesai, bro. setelah kursi diberi bantalan, bagian pengadaan melihat kesempatan lain. dia mendekati sang raja kecil di atas kursi goyangnya yang gemerincing dengan bantalan tangan yang empuk."
temanku memasang mimik seorang penjilat, suaranya menjadi seperti suara banci di lampu merah, "raja kecil, raja gagah sekali di atas kursi itu, tapi akan lebih gagah jika kursi itu ditambah roda. saya ada teman seorang supplier roda yang mampu memberikan roda silver dengan harga kompetitif..." begitulah temanku menirukan orang dari bagian pengadaan.
temanku meneguk minumannya lagi, "...begitulah orang dari bagian pengadaan membujuk sang raja kecil untuk menambahkan roda pada kursi goyangnya."
"Well... itu wajar teman," kataku. "di setiap projek pasti ada oknum-oknum yang tidak berintegritas, memanfaatkan peluang membeli barang-barang untuk memperoleh komisi. jika kita tahu itu buruk, jangan kita lakukan. hidup kita tidak sebatas di bumi saja..." kataku menghibur
temanku seperti tidak mendengarkan kata-kataku, dia melanjutkan ceritanya.
"tak berapa lama roda dipasang pada kursi. setelah berjalan beberapa lama, kursi tersebut terlihat tidak dapat bersaing dengan kursi lainnya. bunyinya berisik, akibat lonceng yang terlalu banyak. sang raja kecil sering tertidur karena ada bantalan yang empuk. ditambah roda pada kursi tersebut, kursi goyang itu sudah tidak dapat bergoyang lagi sesuai fungsi aslinya." lanjut temanku dengan wajah lesu.
aku mengangkat kedua alisku.
"singkat cerita, aku dan team dipanggil manajemen, aku didakwa karena bersalah. perintah awal adalah membuat kursi goyang. aku didakwa karena membuat kursi roda yang berisik. perintah awal adalah membuat kursi yang berfungsi sebagai tahta. tapi di akhir cerita menjadi kursi roda untuk orang cacat, ditambah lonceng-lonceng yang berisik...." lanjut temanku yang semakin menunduk seperti kurang tidur.
temanku menghabiskan minumannya, "pekerjaanku sucks, bro. it's a big bullshit..."


14 komentar:
Curhat colongan nih yeeeeee....
your story sounds familiar.....
-dipit-
nice story, bee :-)
hehehehe, itu temenmu, yang di perusahaan mana?
:-) just wondering, temen, atau bicara pada diri sendiri???
hihihihiihihi
no offense deh bro...
Rasanya diambil dari pengalaman pribadi … :)
hahaha... KOK MIRIP BANGET SAMA PROYEK TAKSI DI SEBUAH PERUSAHAAN???????
Jadi ingat 2 buah peraturan tidak tertulis yang sering ada:
1. Yang punya kekuasaan selalu benar
2. Bila yang punya kekuasaan salah maka lihat peraturan no.1
Hmm... kalo gitu job yang tidak bullXXit mungkin cuma jadi yang punya kekuasaan ato Bos hehe....
Hmmm...
seperti curahan hati
Nggak lagi ngomong sendiri kan Mr. Abee..?
..::priel::..
bukannya di perusahaanmu, banyak yang kaya begini, Mr. Abee?
kenapa halaman ini nggak di publish aja ke pejabat2 kantormu?
then, you could take a deep look at them...
face the reality, just like your story...
astra kan??? hahaha... good luck deh
If u can't go out of a hell, u have to change the hell to a heaven.
Which one more SUCKS, your's or my "house of lies" job?
dalam training couching dan counselling dikatakan bahwa bawahan harus sinergi dengan atasan. Dan kalau tidak bisa, maka pilihannya adalah ada yang harus keluar. Dan saya telah mengambil keputusan dengan mengeluarkan atasan saya dari hidup saya dengan pindah ke tanah perjanjian yang penuh susu dan madu...jadi tidak perlu kita jadi tukang kursi yang aneh dikarenakan atasan tidak bisa sinergi dengan saya sebagai bawahan...
kita di perusahaan yang sama,introspeksi bos,BD tidak hanya menerima,tapi juga menyanggah dan memberi sebuah usulan jika akan terjadi pergeseran konsep awal
apa yang akan terjadi..
bila kamu yang duduk dikursi goyang "bikinanmu" itu sendiri bie?
Finally bisa comment juga disini, Bi. It didn't take long for everybody to realize what's behind this post. I guess your friend should increase his (assuming a 'he') influence towards his management. Toh, teorinya adalah dia berada dalam posisi untuk 'membisiki' babah2nya itu. Udah ada strategi bagaimana menyingkirkan Pak Pojok gw?
Post a Comment